Kisah Sejarah Mbah Mbatu (Batu)

Kisah Sejarah Mbah Mbatu (Batu)

Kisah Sejarah Mbah Mbatu (Batu) diawali dengan napak tilas Pangeran Rohjoyo, ia adalah putra dari pasangan Raden Ngabehi yang lebih dikenal dengan julukan Pangeran santri, dari pernikahan dengan Dewi Murtosiah puteri Panembahan Ratu dari Cirebon.

Ayahanda Pangeran Santri bernama Raden Said atau yang lebih dikenal sebagai Sunan Muria, putra dari wali penyebar islam dengan tidak meninggalkan corak budaya jawa Kanjeng Susuhunan Kalijaga.

Sejak kecil Pangeran Rohjoyo figur yang paling menonjol di antara saudara – saudaranya, pengetahuan tentang Ilmu agama, taktik perang, ilmu kesaktian, dan cakap dalam berpolitik.

Sehingga karier beliau begitu cemerlang dengan di angkat menjadi Tumenggung di Kadilangu oleh Sultan Demak Kanjeng Sultan bintoro IV.

Di masa pemerintahan Pangeran Rohjoyo, menjabat sebagai Tumenggung Kadilangu, telah terjadi perpecahan di kalangan Bangsawan Demak. Perpecahan terjadi menjadi dua kubu, kubu pertama yang mendukung pro kompeni Belanda dan anti pro kompeni Belanda.

Perselisihan memuncak ketika Pangeran Rohjoyo terhadap adik iparnya Raden Mertojoyo, yang mengusulkan agar pesisir utara jawa di sewakan kepada kompeni Belanda, dan Pangeran Rohjoyo dengan tegas menolak usulan tersebut.

Sejak kejadian penolakan usulan agar pesisir utara jawa di sewakan kepada kompeni Belanda , permusuhan antara Pengeran Rohjoyo dan Raden Mertojoyo adik iparnya semakin runcing.

Pada Puncaknya Raden Mertojoyo meminta bantuan kompeni Belanda untuk Menyerang Kadilangu dan membunuh Pangeran Rohjoyo, ketika perundingan berlangsung antara Raden Mertojoyo dan Kompeni Belanda untuk menyerang kadilangu, dan tidak disengaja didengarkan oleh Raden Sabda Pamungkas atau yang lebih dikenal dengan Raden Mijil Alit adik kandung dari Pangeran Rohjoyo.

Seketika itu Raden Mijil Langit menantang adu kesaktian dengan Raden Mertojoyo, karena di keroyok juga oleh punggawa Raden Mertojoyo akhirnya Raden Mijil Alit  gugur di tangan Raden Mertojoyo.

Mendengar adiknya terbunuh, dengan kemarahan yang tak terbendung lagi Pangeran Rohjoyo melakukan segera melakukan serangan ke Raden Mertojoyo dan mampu mengalahkan dan membalas dendam atas kematian adiknya.

Gugurlah Raden Mertojoyo ditangan Pangeran Rohjoyo, setelah penyerangan terjadi Pangeran Rohjoyo segera kembali ke Kadilangu untuk mempersiapkan segala kemungkinan.

Berita kematian Raden Mertojoyo segera menyebar di telinga Kompeni Belanda dan melakukan serangan balik dengan bala tentara kompeni belanda dengan persenjataan yang lengkap.

Dengan mudah pasukan Pangeran Rohjoyo dapat dikalahkan, di serangan kompeni belanda tersebut Pangeran Rohjoyo yang menderita kekalahan pertempuran dapat melarikan diri menuju Gunung Muria untuk bersembunyi di pesantrean Kakeknya, yaitu Kanjeng Susuhunan Muria.

Cukup Lama Pangeran Rohjoyo berdiam di tempat kakeknya, pada suatu hari di panggilah Pangeran Rohjoyo menghadap Sunan Muria, kemudian beliau diberi perintah untuk mengembara menuju arah timur, tepatnya ke daerah Tuban untuk menemui Ualam bernama Malik Ibrahim.

Berbekal Nasehat kakeknya akhirnya Pangeran Rohjoyo melanjutkan pengembaraannya dan Berdakwah menyebarkan agama menuju Tuban Jawa Timur dan menganti nama menjadi Raden Sarpin denga di damping 6 orang santri.

Di kota Tuban Pangeran Rohjoyo menetap selama setahun, ketika tepat satu tahun berada di sana Raden Suradi dari Demak memberitahukan bahwa Bala Tentara belanda akan melakukan serangan di daerah tuban karena di curigai tempat penyusunan kekuatan Untung Surapati yang sedang dalam pengejaran pihak kompeni Belanda.

Mendengar hal tersebut Pangeran Rohjoyo yang juga sedang di kejar pihak Kompeni Belanda segera memutuskan meninggalkan Tuban menuju Pesanteran Ampel Gento, pesantren yang di bangun oleh Sunan Ampel, untuk tempat menetap sementara.

Pada tahun 1204 H beliau menuju Dusun Gambiran Mojokerto, setelah menetap 3 tahun berdakwah menyebarkan agama Islam, Pangeran Rohjoyo mampu mengumpulkan berpuluh – puluh santri.

Ketika menetap lama di Dusun Gambiran Mojokerto, keberadaan Pangeran Rohjoyo tercium juga oleh Kompeni Belanda, hal tersebut di sampaikan Raden Suradi ketika memberitahu bahwa bala tentara Belanda telah menyiapakan kekuatan besar sebanayk 2 kapal laut untuk usaha menangkap Pangeran Rohjoyo.

Berita yang dikabarkan Raden Suradi segera di tindaklanjuti Pangeran Rohjoyo dengan membuat kuburan Palsu untuk mengecoh Kompeni Belanda apabila tiba di Dusun Gambiran Mojokerto.

Beliau berpesan kepada seluruh muridnya untuk tetap tinggal di Dusun Gambiran agar ketika Bala Pasukan Belanda datang dan mencari beliau, segera ditunjukan kuburan palsu tersebut.

Setelah keberadaanya di ketahui Kompeni Belanda dan mebuat kuburan palsu, Pangeran Rohjoyo melanjutkan perjalanan menuju tempat bernama Poh jejer Dusun Sukolilo dan membangun pesantren baru di daerah tersebut.

Satu tahum sudah Pangeran Rohjoyo menetap Poh jejer Dusun Sukolilo, pada suatu hari terlintas di benak beliau melakukan semedi atau nyepi di puncak Gunung Indrokilo ( Gunung Arjuna ).

Gunung yang dimana pada masa lampau sering digunakan Raja – Raja penguasa jawa melakukan semedi untuk mendapatkan petunjuk dari Sang Hyang Widhi, setahun lamanya Pangeran Rohjoyo seorang diri melakukan uzlah atau nyepi dipuncak gunung tersebut.

Pada suatu malam Pangeran Rohjoyo mendapatkan petunjuk bertemu dengan kakek buyutnya Kanjeng Susuhunan kalijaga, dalam petunjuk tersebut Kanjeng Susuhunan kalijaga memberi petunjuk untuk mencabut pohon beringin kecil yang tepat ada di dekatnya.

Dengan pohon beringin itulah nantinya Pangeran Rohjoyo di beri petunjuk dimana beliau, membuka tempat baru untuk tempat tinggalnya.

Kisah Sejarah Pertemuan Mbah Mbatu ( Dewi Condro Asmoro ) dengan Pangeran Rohjoyo 

Areal Makam Mbah Mbatu – Picture by @ Amazing Bumiaji

Tepat mentari muncul dari ufuk timur, terbangunlah Pangeran Rohjoyo, dilaksanakanlah petunjuk dari Kanjeng Susuhunan kalijaga, pohon beringin yang ditunjuk dalam petunjuk Kanjeng Susuhunan kalijaga segera dicabut oleh beliau.

Dan seketika itulah datangalah angin kencang yang tiba datang yang menuntun beliau untuk menuju arah selatan Gunung Arjuna, Pangeran Rohjoyo mengikuti hembusan angin hingga hembusan angin tersebut makin lama, makin melambat dan berhenti hening.

Langkah Pangeran Rohjoyo berhenti setelah angin yang menuntunnya hening, tiba – tiba mata Pangeran Rohjoyo menangkap pemandangan sebuah Gubuk yang sudah tidak terawat sama sekali.

Di dalam hati beliau bergumam tidak mungkin ada penghuni di hutan sunyi dan yang dipenuhi pohon pohon besar yang lebat, bahkan sinar matahari tak sanggup untuk memberi cahaya di bawah pohon – pohon besar tersebut.

Akan tetapi dalam hati Pangeran Rohjoyo sangat penasaran dengan gubuk tepat berada di depan mata beliau berdiri. Dengan kaki perlahan beliau melangkah menghampiri gubuk tua tersebut.

Setelah di depan pintu gubuk tersebut, mata Pangeran Rohjoyo memandang pintu gubuk tersebut telah terbuka, masuklah beliau ke dalam gubuk, dilihatnya seorang wanita yang sangat tua sekali yang sedang terbaring di balai dalam gubuk tersebut.

“ Assalamu’alaikum…. Assalamu’alaikum…. Assalamu’alaikum….Mbok Tuwo “ Ucap Pangeran Rohjoyo

Berkali – kali Pangeran Rohjoyo beruluk salam tanpa mendapatkan jawaban, tetapi Wanita Tua tersebut tidak menjawab, hingga Pangeran Rohjoyo mendekat hanya dengan jarak 1 langkah.

Untuk kesekian kali Pangeran Rohjoyo memberi salam, barulah wanita tua tersebut menoleh dan mendengar.

“ Kebeneran … kebeneran..kebeneran ! “ Ucap Wanita tersebut

“ Kulo Ngenger nggih mbah tuwo, kulo badhe Ngenger ten mriki, Sinten Rencang Panjenengan ? tanya Pangeran Rohjoyo

“ Kebeneran … kebeneran..kebeneran Nak Angger, Rewangku mung Wesi Kuning Bae “Dengan ucapan lirih wanita tersebut menjawab

“ Mbok Tuwo jenengmu Sopo ?  Bojo lan Ngasalmu ngendi “  tanya Pangeran Rohjoyo dengan rasa penasaranya

“ Jenengku Dewi Condro Asmoro / Nini Kuning, Soko Mojopahit, aku dikongkon golek panguripan dewe karo Ratu Suhito Kerthabhumi, bojoku sedo di oyak karo punokawan bintoro demak, aku ngasto wesi kuning, aku psasrah marang kowe ngger “ Jawab Mbah Tuwo

“ Wes Pirang tahu mbah tuwo ten mriki ? “ bertanya lagi Pangeran Rohjoyo

“ Eko Ca Dwi “ jawab Mbah Tuwo

Dalam hati Pangeran Rohjoyo sangat terenyuh melihat mbah tuwo yang sudah payah dan sakit – sakitan, berdiam sendiri di tengah hutan lebat selam 152 Tahun.

Yang artinya usia mbah tuwo sudah lebih dari 152 tahun. Dirawatlah Mbah Tuwo oleh Pangeran Rohjoyo.

Hari berganti hari kesehatan mbah tuwo pun semakin memburuk dan akhirnya mbah tuwo menghembuskan nafasnya, Pangeran Rohjoyo memakamkan jenasah Mbah tuwo di sebelah utara sungai, setelah menguburkan jenasah Mbah Tuwo.

Beliau kembali Poh jejer Dusun Sukolilo, untuk mengajak murid – muridnya membuka hutan, sesuai dengan petunjuk dari Susuhunan Kalijaga melalui petunjuk ketika nyepi di puncak indrokilo, untuk membuka perkampungan baru yang dinamakan kabeneran.

Kedatangan Kyai Abu Ghonaim di Dusun Kabeneran

Pada Tahun 1829 M datanglah Kyai Abu Ghonaim di Kabeneran, beliau adalah pengikut kepercayaan Pangeran Diponegoro yang melarikan diri, ketika Bala pasukan Kompeni menyerang Mataram dibawah pimpinan Jenderal De Kock, Mataram mengalami kekalahan hebat.

Kyai Abu Ghonaim menceritakan kekalahan hebat tersebut kepada Pangeran Rohjoyo, setelah singgah di Dusun kabeneran, Kyai Abu Ghonaim akan melanjutkan perjalanan untuk melanjutkan gerilya beliau , dengan petunjuk dari Pangeran Rohjoyo, Kyai Abu Ghonaim disarankan untuk menuju selatan.

Setelah berpamitan kepada Pangeran Rohjoyo, Kyai Abu Ghonaim melanjutkan perjalanan menuju arah selatan, berangkatlah Kyai Abu Ghonaim dengan menunggang kuda, akan tetapi nasib berkata lain, kuda yang di tunggangi Kyai Abu Ghonaim terjatuh dan “Mberot” atau lari, menghempaskan tubuh Kyai Abu Ghonaim ketanah berbatu.

Sehingga beliau mengalami cedera yang cukup amat parah, hingga menghembus nafas terakhir ditempat tersebut, Lokasi tersebut di namai Dusun Mberot yang sekarang di kenal Dusun Beru. Kyai Abu Ghonaim dimakam tepat disebelah Mbah Tuwo ( Mbah Mbatu ) oleh Pangeran Rohjoyo.

Keadaan Pangeran Rohjoyo sudah semakin renta, tepat pada tanggal 17 Maret 1830, Pangeran Rohjoyo menghembuskan nafas, beliau wafat tanpa sebab apapun, kematian Pangeran Rohjoyo bersamaan dengan peristiwa aneh, yaitu tumbangnya Ringin Agung di pelataran Pendopo Demak.

Wafatnya Pangeran Rohjoyo dan Asal Sebutan Mbah Mbatu (Batu)

Areal Makam Mbah Mbatu – Picture by @ Amazing Bumiaji

Selanjutnya Jenazah Pangeran Rohjoyo di makamkan di Makan Mbah Tuwo ( Mbah Mbatu) dan Kyai Abu Ghonaim berada, setelah wafatnya Pangeran Rohjoyo Dusun Kabenaran dan Pesantrennya di Pimpin Raden Syarif.

Murid – Murid Pangeran Rohjoyo dari berbagai daerah banyak melakukan ziarah ke makam Pangeran Rohjoyo di kompleks pemakaman Mbah Tuwo (Mbah Mbatu) , dan menjadi tradisi yang turun temurun, kegiatan tersebut akhirnya berdampak lain pada sebutan baru bagi daerah sekitar.

Pemakaman Mbah Tuwo tersebut, dimana kebiasan santri-santri Pangeran Rohjoyo yang banyak asli jawa memperpendek sebutan areal ziarah Mbah Tuwo menjadi sebutan Ziarah Ke makam Mbah Mbatu.

Hal ini yang sering di ucapakan orang – orang yang ingin menuju ke daerah makam mbah tuwo, maka daerah tersebut di beri nama “ MBATU”

Desa di mana tempat makam Mbah Tuwo (Mbah Mbatu) akhirnya di sebut Desa Mbatu, yang kemudian Nama Mbatu diminta oleh Asisten Wedana untuk di jadikan nama kecamatan Batu, yang sekarang di jadikan Nama Kota Batu.


Sumber Artikel :

  • Buku Napak Tilas Sejarah Perjalanan Pangeran Rohjoyo
  • Keluarga Besar Keturunan Pangeran Rohjoyo

Anda mungkin juga menyukai ...

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

Tim dukungan pelanggan kami siap menjawab pertanyaan Anda. Tanyakan apa saja kepada kami!